Menurut aku, rayuan itu melibatkan seks. Merayu buatku adalah ketika seorang cowok berhasil mendapatkan hati seorang cewek seratus persen. Mendapatkan hati, pikiran dan jiwanya. Bahkan secara ekstrim dikatakan seratus persen ketika cowok itu menghendaki tubuhnya, si cewek rela menyerahkannya.
Tapi aku tentu sangat tidak sependapat tentang yang “ekstrim” itu. Aku hanya berpikir itu salah satu bagian ekstrim dari sebuah rayuan yang berhasil.
Aku lebih menghargai seorang cowok yang mengembangkan hubungan yang baik dengan seorang cewek. Artinya membuat cewek merasa dihargai sebagai wanita.
Cewek bukan hanya sebagai seorang sahabat atau teman baik, tetapi sebuah rasa nyaman, seksi ketika berada di dekat seorang cowok.
Aku rasa bila seorang cowok menyebut dirinya “pakar merayu”, seharusnya dia nggak perlu tidur dengan ceweknya untuk membuktikan bahwa dia telah berhasil mendapatkannya.
Yang harus seorang cowok ketahui hanyalah mengetahui bahwa jika dia mau, dia dapat melanggar batas itu kapan saja. Itulah rayuan yang berhasil menurutku.
Kalo kamu ada pendapat lain, silahkan saja di-share.

Yah, walaupun sesama laki - laki, tetap saja. Bagi saya, lebih menyenangkan melihat seorang gadis tertawa bahagia, daripada tertawa terpaksa karena rayuan yang gombal.
Karena terkadang, rayuan terkesan cheesy. Saya sudah bosan menikmati yang palsu. Yang saya rindukan, adalah yang tulus. Juga yang jujur.
(Oalah... kecil - kecil nggak boleh ngomong yang aneh2!!!, hehehe.. Salam kenal, kak Cinta. Tenang saja, saya masih kecil, koq. Masih 16 tahun. I'm sixteen, split, and depressed.
Mungkin kapan - kapan kita bisa berbagi. Kakak pernah mampir ke Dear Diarynya kafegaul?)